Unreal Reflection

Month

April 2012

18 posts

I really love you mom, Really love you, I will do everything that can make you smile. I know you still want to look like stronger, even I haven’t return of your righteousness. Soon Mom, I will do for you

Apr 27, 2012
“Bahkan aku terlalu takut untuk bermain api.” —
Apr 26, 2012
“Al Khawarizmi, ahli matematika Islam ketika ditanya tentang seperti apakah wanita terbaik menurut beliau. Beliau menjawab;
Jika wanita itu shalehah dan beragama maka kuberi nilai = 1.
Jika dia cantik, tambahkan nol di belakang angka 1 = 10.
Jika dia kaya, tambahkan lagi angka nol = 100.
Dan jika dia dari keluarga baik-baik tambahkan lagi angka nol = 1000. Tetapi jika yang 1 tiada, maka tiada lagi yang tersisa padanya kecuali sekelompok angka 0.”
—Mbak Dhian 
Apr 24, 20129 notes
“Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah nafas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernafas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkan hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah kemana hati membawamu.” —
Apr 24, 2012
Membongkar Manipulasi Sejarah

Itulah judul buku yang baru saja saya baca dan baru siap setengahnya, cuma saya merasa tergerak sekali ingin menulis. Buku ini karya Asvi Warman Adam seorang ahli peneliti utama pada pusat penelitian politik LIPI, yang sangat banyak berpengalaman baik di kancah nasional maupun internasional. 

Bleepp.. saya hanya bisa tercengang saat membaca tulisan dia dari lembar ke lembar. seperti judulnya, membongkar manipulasi sejarah, artinya ada beberapa sejarah kita yang ternyata dijadikan alat propaganda bahkan sudah diajarkan pada kita saat saat saya SD, SMP, maupun SMA. Yah, apalagi bukan tentang sejarah bangsa Indonesia sendiri.

Saya tercengang, begitu mudahnya para pilitis itu memutar balikkan fakta dan bahkan membunuh dua kali para pahlawan kita. Seolah-olah yang diajarkan pada kita disekolahan itu adalah kejayaan seorang yang sebenarnya berbuat kejam, bahkan saat beliau sudah mati, fakta-fakta tentang manipulasi itu mulai diluruskan oleh sejarawan dan saksi hidup.

Pak Soekarna, adalah founding parentsnya Indonesia, memang mengalami penganiayaan batin ketika akhir hayatnya, bahkan dia dibunu dua kali, dibiarkan jadi pasien rawat rumah tanpa diberikan pengobatan sama sekali, sementara idenya dilarang untuk didiskusikan sampai akhir hayat merenggutnya.

Banyak sekali yang membuat saya terenyuk, soalnya  ternyata sejarah yang saya pelajari itu hanyalah alat propaganda mereka yang haus akan kekuasaan. Keenaran seolah ditutup-tutupi, politik dan kekuasaan menjadikan mereka para penguasa saat itu menghalalkan segala cara. Sebaiknya pemuda yang baik harus membaca buku ini, benar kata Soekarna, ‘jas merah, jangan melupakan sejarah’.

Saat ini saya juga mendadak menjadi pengamat politik di Indonesia, bukan berarti saya suka politik, bahkan saya membencinya, karena politik itu kejam, bahkan sudah ada sejak para pahlawan kita memperjuangkan kemerdekaan ini, bahkan setelah merdekapun mereka tetap dijadikan alat propaganda.

Ya, saya mulai mengamati fenomena baru di tanah air, munculnya seorang tokoh yang seperti memberikan setitik cerah harapan bagi bangsa ini, yak, siapa lagi kalau bukan Mentri BUMN, yang terhormat Pak Dahlan Iskan.

Saya mulai mempelajarinya, membaca biografinya, dan menonton tayangan wawancara eksklusifnya di mata nadwa beberapa minggu lalu. Saya terus melihat beberapa komentar prang-orang di luar sana, dan membaca blognya dia. Waaw, dia memang seorang penulis, yang manjadi cikal bakal kariernya menjadi pengusaha dan menjadi pemilik beberapa perusaahn besar di Indonesia yang bergerak di bisang media maupun pertelevisian.

Memang nasip siapa yang tahu, niat baik dan cita-cita tulus dan luhur budi yang dimilikinya menjadikan dia seorang figur suri tauladan bagi bangsa ini saat ini. Masih ada orang yang jujur, sederhana, bukan hanya dibuat-buat, yah begitulah dia sejak dulu, dermawan, dan merakyat. Alhamdulillah dia hadir ditengah bangsa yang sedang mengalami krisis kepercayaan.

bahkan niat tulusnya sempat dijadikan bahan interpelasi oleh DPR yang sebenarnya hanya menghabiskan duit rakyat, hahaha.. akhirnya pak dahlan menang telak, menang tanpa mencari pembelaan, menang tanpa melawan. Itulah kemenangan yang sejati.

Awalnya saya membicarakan manipulasi sejarah, saya bangga memiliki pak dahlan yang memiliki latar belakang seorang wartawan, dia saat ini dengan berani mengadu kepada para wartawan apabila ada orang yang meinterpelasinya.

Artinya apa, saat sekarang ini sungguh di era demokrasi dan reformasi, seharusnya para pemerintah itu bisa lebih transparan kepada kita, sehingga akan banyak saksi sejarah dan praktek manipulasi sejarah tidak akan terjadi lagi. 

Beruntunglah orang seperti pak dahlan yang selalu membuatkan catatan sejarahnya, sehingga orang akan menilai dan mengontrol dan bahkan bisa mengecam para politis yang suatu saat merubah tentang sejarah perjuangannya terhadap bangsa Indonesia.

Dengan segala penghormatan yang sedalam-dalamnya, saya akan terus bangga menjadi bangsa Indonesia apalagi memiliki para ksatria pemberani seperti Bung Karno dan Pak Dahlan Iskan.

Semoga saya bisa menjadi salah satu generasi yang akan mencintai sejarah, saksi hidup sejarah, dengan tulisan-tulisan saya yang saya buat saat ini. Saya menyadari betapa pentingnya sejarah bagi kita, untuk selalu mendokumentasikan hal-hal penting yang akan berguna di kemudian hari.

Apr 24, 2012
Apr 21, 2012119 notes
I Officially got selected on IYC

Kali ini mau cerita kegalauan aku seminggu kemaren. Ceritanya bermula dari pengumuman IYC tahap II yang membuat aku takut dilongkahi oleh 65 pesaing lainnya. Soalnya ternyata dari delegasi IYC tahap I dan II bakal diseleksi lagi hanya 33 orang saja. Nah, aku gara-garanya udah lulus tahap I terkejut pas liat yang tahap II itu juga 33 orang. Nah duit pendaftarannya kan 500rb, sedangkan duitku sampe tanggal pembayaran 17 April 2012 itu baru 300 rb. Aku bingung mau nyari kemana. Nah, ibu akhirnya ngasih aku sumbangan 200 rb, jadilah masalah yang satu ini terselesaikan.

Tanggal 17 April, adalah pembayaran yang paling menegangkan dan paling berkesan olehku. Soalnya di e-mail dari panitia mengatakan kalo siapa yang cepat bayar, dia yang mendapat. Nah, jadinya aku udah kebangun jam 4 pagi, mau bayar lewat atm aja, tapi ayah nggak mau bangun, masih capek karena kemaren lembur. Jadilah pas selesai azan subuh aku bawa motor sendiri ke ATM, dingin dan agak gimana ya. Tapi untunglah orang udah rame juga selesai sholat subuh.

Aku lega pembayaran selesai, jadinya harap-harap cemas deh nunggu pengumuman malam itu. Nah, sialnya tiap buka situs IYC malah ga ada terus. Trus ada juga updetan dari panitianya kalo udah ada yang terseleksi delegasinya, jumlahnya 33 orang. Tuh kaaan, jadi galau.

Selasa malem ga ada, rabu juga, kamis gitu juga, sampe jum’at sore tetep ga ada. Huaaa galau dan penasaran dengan pengumuman. Nah, sorenya aku buru-buru pulang dan terus pantau website IYC, naaahh waktu itu lagi chat nih sama Duta IYCnya, nah aku curhat deh, trus tiba-tiba liat twitter, taraaaaaa…

dag dig dug hatikuu.. dag dig dug hatikuu…

ini diaaa PENGUMUMAN yang aku tunggu-tunggu, geser scroll ke bawah dan Alhamdulillah, Allah Maha besar, aku akhirnya lulus, sesuatu yang sangat aku harapkan dan aku tunggu-tunggu. 

Dan yak, congratulation for me, for u all, can’t wait to see you in JULY 2012 in Jakarta :D 

Apr 21, 2012

Menurutku orang-orang hebat itu biasanya penulis karena mereka nggak punya cukup waktu berbagi dengan berbicara langsung. Mungkin dengan menceritakannya lewat tulisan hal itu dapat mengefisienkan waktu sekaligus sebagai dokumen penting kalo mereka benar-benar menginspirasi. Pasti ketika ada hal yang luar biasa terjadi tidak di bagi mereka merasa rugi.

Yang muda yang menginspirasi :D

Apr 20, 2012
“Mungkin pilihan yang sulit memiliki scedule yang sama di suatu waktu. Benar kata salah satu dosenku, kita bakal optimal jika hanya fokus pada satu hal saja, jika dua-duanya dikejar maka mungkin hasilnya juga setengah.” —
Apr 19, 2012
I don't know

Makin kesini aku makin nggak yakin dengan mereka, aku bisa melihat kita itu kurang kompak, karena ya pernah disuguhi dengan judging2 yang menurutku itu merusak. Aku sih melihatnya pesimis, agaknya aku juga nggak terlalu memikirkan nasip satu kelompok karena aku ya dasarnya bosenan maunya berpetualang dan nggak bakal mau terikat hanya dalam satu tempat yang membuatku nantinya terhalang berkembang. Menurutku nih yaa, hidup itu petualangan.

Apr 19, 2012
“Silahkan semua belajar, silahkan semua berproses. Dan lakukan hal-hal itu dengan sebaik-baiknya.” —
Apr 19, 2012
Kerjaanku menggila dengan nenek :P makhlum she was falling in love again <3
  • [18/01/2012 0: 00:25] Rabiatul Adawiyah: jam 00.00
  • [18/01/2012 0: 00:50] Aisyah Nur Rahmah: Pemeran utamA cantik : Aisyah Nur Rahmah
  • Pemeran utama Ganteng : Arief Kurniawan
  • [18/01/2012 0: 01:14] Rabiatul Adawiyah: kok pemeran ya??
  • [18/01/2012 0: 01:19] Rabiatul Adawiyah: tokoh yaa
  • [18/01/2012 0: 01:20] Aisyah Nur Rahmah: oh salah ya?
  • [18/01/2012 0: 01:28] Aisyah Nur Rahmah: itu sinetron ding :P
  • [18/01/2012 0: 01:53] Aisyah Nur Rahmah: Astaghfirullah gua ngences
  • [18/01/2012 0: 02:02] Rabiatul Adawiyah: huahahaha
  • [18/01/2012 0: 02:08] Rabiatul Adawiyah: :x
  • [18/01/2012 0: 02:51] Aisyah Nur Rahmah: Arief.. arief.. ARIEF.. JGN KESELEK YAA AKU PANGGIL :3
  • [18/01/2012 0: 03:13] Rabiatul Adawiyah: :P
  • [18/01/2012 0: 03:44] Aisyah Nur Rahmah: ehh.. tidur sanaa..
  • [18/01/2012 0: 03:51] Aisyah Nur Rahmah: aku mau buat roti bakar
  • [18/01/2012 0: 03:57] Rabiatul Adawiyah: -____-
  • [18/01/2012 0: 04:04] Rabiatul Adawiyah: bikin sendiri2 ajaaaa
  • [18/01/2012 0: 04:05] Aisyah Nur Rahmah: Si mbak kosku minta bikinin malem2
  • [18/01/2012 0: 04:09] Aisyah Nur Rahmah: hhahahahahaa
  • [18/01/2012 0: 04:16] Rabiatul Adawiyah: bakar dimana?
  • [18/01/2012 0: 04:23] Rabiatul Adawiyah: jgn mpe bakar kos yak :P
  • [18/01/2012 0: 04:27] Aisyah Nur Rahmah: wajan
  • [18/01/2012 0: 04:46] Rabiatul Adawiyah: ndu loh ntr maem malam2.
  • [18/01/2012 0: 05:19] Aisyah Nur Rahmah: salah satu yg pgn aku bakar klo seandainya ngebakar orang itu gk dilarang adalah ngebakar mantan gueee yang namanya REXZY AJIE NUPERDANNA SRIYONO RAWR!!
  • [18/01/2012 0: 05:37] Rabiatul Adawiyah: Lah?? Muahahahahhaa
  • [18/01/2012 0: 05:43] Rabiatul Adawiyah: ga boleh kek gituu
  • [18/01/2012 0: 05:48] Rabiatul Adawiyah: sama aja kamu kayak bocah
  • [18/01/2012 0: 05:49] Rabiatul Adawiyah: :P
  • [18/01/2012 0: 06:00] Rabiatul Adawiyah: dewasalah demi KURIP
  • [18/01/2012 0: 06:02] Rabiatul Adawiyah: hahahaha
  • [18/01/2012 0: 06:14] Rabiatul Adawiyah: (h)
  • [18/01/2012 0: 06:18] Aisyah Nur Rahmah: kurip?
  • [18/01/2012 0: 06:21] Aisyah Nur Rahmah: -___-
  • [18/01/2012 0: 06:25] Aisyah Nur Rahmah: jelek amat
  • [18/01/2012 0: 06:30] Aisyah Nur Rahmah: SURIP!
  • [18/01/2012 0: 06:36] Aisyah Nur Rahmah: bru bagus XD
  • [18/01/2012 0: 06:42] Rabiatul Adawiyah: muahahaha... KURIP..
  • [18/01/2012 0: 06:43] Rabiatul Adawiyah: :P
  • [18/01/2012 0: 07:08] Aisyah Nur Rahmah: Ariefku sayaaaang muaaah
Apr 13, 2012
Apr 13, 201211,120 notes

Tak pernah ku bermimpi akan begini alur pertemanan ini, semua bisa berubah karena hal yang tak aku perkirakan. Awalnya sulit, tapi begitu berjalannya waktu semua menjadi biasa saja, pun ketika ku temui mereka di tempat yang mungkin menjadi sebuah kebetulan, aku sih biasa-biasa saja, siapasih yang nyuruh salting? oke oke, kali itu mungkin ada beberapa perasaan dari kamu yang segan, malu, curiga, atau apalah, tapi mungkin takdir ya kita bertemu disana padahal aku berharap kita tak usah lagi bertemu. No reason hey for us to keep this situation. Okeh sekian selamat malam, dan kali ini aku hanya ngakak dengan kesaltingan kalian trus buat seseorang yang udah dikecewakan karena keegoisan kamu sebelumnya selamat ya menjadi manusia bermuka dua. yah, gue harap kalian berubah meskipun bakal sulit merombak hatiku lagi.

Apr 13, 2012
SEMPURNA- sebab cinta tak membutuhkan alasan

Aku tak akan membiarkan diriku jatuh cinta pada seseorang yang tak bisa kumiliki….

Kau adalah musuh bagi hatiku. Yang membuat aku waspada dan aku buru-buru membentengi diri agar tak terpikat pada pesonamu. Tapi, kau terus memaksa masuk. Seperti kuda Troya, kau sukses menyelusup ke ruang hatiku. Aku memang bertekad menjauhimu, tetapi jantungku ternyata tak cukup kuat untuk membendung setiap debaran yang tercipta karena dirimu.

Aku tahu akan menyesali semuanya, tetapi tak ada yang bisa kulakukan…. Aku telanjur menerjunkan diri ke dalam api cintamu. Terbakar bersama cinta yang kelak juga akan membumihanguskan kebahagiaanku. Aku nekat, mengambil risiko terluka lagi… dan kali ini karenamu.

Apr 13, 2012
Ya Allah, aku titipkan hatiku pada-Mu.. →


Ya Allah, aku titipkan hatiku pada-Mu, sambil aku mengejar mimpiku. Kutahu aku bisa mempercayakan Engkau untuk memberikannya pada orang yang berani bermimpi dan takkan lelah mendukung mimpiku; teman seperjuangan yang akan memiliki separuh belahan hatiku, yang akan kami berikan pada-Mu dalam satuan utuh di akhir perjuangan kami. Semoga merdu Salam dari-Mu bisa kami dengar setelah kebersamaan mendorong kami untuk melakukan hal hebat atas ridho-Mu. Jadi, sekali lagi, kutitipkan hatiku dalam kerapuhannya dan kecenderungan perasaannya untuk naik-turun; kuserahkan pada tangan kuasa-Mu. (source: inidini)


(judul asli : Tuhan, aku titipkan hatiku pada-Mu)

Apr 9, 2012398 notes
Lelaki yang Gemar Menanam Hujan

ayahku adalah lelaki yang gemar menanam hujan di doa ibu

pagipagi sekali ia sudah bangun, berwudhu, lalu sujud sambil berdoa agar tanah

mau menerima pinangannya


Beberapa waktu terakhir ini aku merasakan perih, pedih di sekeliling tubuhku. Mungkin tepatnya di hati. Beberapa waktu belakangan ini aku hampir tak mampu berdiri menatap pagi, selalu nanar. Beberapa waktu. Ah, sudahlah, aku tak mau juga berpanjang kalam, membuat kalian yang membaca menjadi marah padam.


Suatu ketika aku membaca beberapa ujaran teman-teman di lini masa jejaring sosial mereka. Mereka tampaknya sedang asyik masyuk mempersalahkan orang miskin di negeri ini. Membicarakan kemalasan orang-orang miskin di negeri ini lebih tepatnya. Ah, ingin kusumpal saja mulut mereka, tetapi buru-buru kuurungkan niatku, jelas itu tak akan banyak bermanfaat karena sekarang bukan lagi masanya lidah untuk mengumpat, jarilah yang menggantikannya. Lidah hanya perlu mengerjakan tugasnya dalam perkara jilat-menjilat. Tentu dalam pengertian harfiah.


Boleh jadi mereka ada benarnya. Bahwa orang miskin itu terus miskin karena mereka malas. Tak mau membanting tulang. Tak mau kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Tapi, ah mengapa itu tak kutemukan pada orang yang kuyakin sekarang masih berada di ladangnya. Menyangkul petak-petak sempit itu seorang diri ditemani pekik lutung yang sesekali menunjukkan anak yang baru dilahirkannya. Yang senantiasa kebingungan ketika harga gabah begitu mahal ketika musim menanam dan ia membutuhkannya dan tak bisa berbuat apa-apa ketika gabah mendadak turun saat panen tiba. Ketika langit mulai merona merah barulah ia membersihkan diri, bergegas pulang untuk menjadi imam Maghrib berjamaah di masjid samping rumah.


Adakah bisa tak sakit hatiku, ketika teman-temanku itu masih saja mencela orang-orang miskin karena hanya bekerja keras tak pernah bekerja cerdas. Hanya pakai otot nyaris tanpa otak. Duhai kawan, mungkin saja kamu benar. Hanya, tak sampai hati kubilang seperti itu pada pria itu. Pria yang hampir setiap hari berangkat ketika langit masih gelap. Entahkan hujan rintik turun atau hanya lembab embun. Pria yang tak kuasa meneriakkan protes entah pada siapa tentang betapa mahalnya pupuk yang perlu ditabur di tanahnya. Pria yang tak pernah tahu, bagaimana cara memberi masukan ke pemerintah bagaimana cara untuk menurunkan harga pembasmi hama. Pria yang nyaris tak terpikirkan untuk mencaci yang berkuasa karena tak ada jalan dan angkutan yang baik untuk membawa bulir-bulir padinya dari tanah berlumpur ini. Bagaimana mungkin pria yang setiap hari membangunkan ibuku itu, membasuh matanya dengan doa-doa di sepertiga malam itu kusebut dengan nyaris tanpa nurani, sebagai pria tak berotak.


saat ufuk terbelah, ayahku sudah berada di kebunnya

cangkul dipapahnya, dan benihbenih hujan

masih berada disebuah kantong yang ia ikat dengan sempurna

sesempurna jabat ibu yang melepas ayah dari pakaian dapurnya yang tegar

           

Ah, aku bayangkan sekarang pria itu dengan sisa kegagahannya mulai menatap ke Timur. Seakan tak ia biarkan matahari mendatanginya, ia yang harus segera menjemput benda itu. Menarik-nariknya dari peraduan semalam suntuknya. Kadang kasihan juga aku pada matahari, mungkin saja ia belum lepas dari kantuknya. Apa boleh buat lelaki miskin itu tak kuasa menahan senyum, ingin segera menghampiri kebun. Tentu saja dengan bekal jabat tangan istrinya yang senantiasa bersetia menyiapkan beberapa potong ubi goreng dan teh manis hangat. Ah, selalu sempurna, meski tak seberapa jika memakai perhitungan harga.


Pernah aku bertanya pada laki-laki yang aku rindukan genggam tangannya itu, mengapa ia tak beralih kerja ke tempat yang tak membuat tubuh terlalu lelah. Ia pun segera menjawab tangkas ujaranku dengan telak, bahwa Tuhan tak akan pernah mengecewakan hambaNya, bahwa kitalah yang lebih sering kecewa ketika takdir itu belum sepenuhnya berakhir. Aku terpukul, pendidikan tinggiku tak berkutik.


Jelas aku bisa melanjutkan pendidikan sejauh ini, merantau sejauh ini, bertahan sejauh ini, dari belas kasih takdir tetapi bagaimana aku tega untuk mengatakan bahwa pria ini mengabaikan pendidikanku. Ketika aku mengatakan padanya, bukankah jika bekerja di tempat yang lebih baik mungkin akan mendapat penghasilan lebih baik dan bisa untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Lalu ia menyambung kembali, ah, tak kuasa sebenarnya aku melayangkan jari menulisnya, ia hanya berkata maafkan saya, saya hanya tak tahu jika saya tak melakukan ini tanah itu akan menjadi telantar, tidak ada yang mau mengurusnya. Saya diberi amanah untuk mengurusnya, saya pun diberi amanah untuk mengurusmu, saya sedapat mungkin menyelesaikan dua-duanya sebaik-baiknya, menurut saya.

 

ayahku menanam hujan dengan sangat hatihati

sebagaimana ia hatihati menyimpan ibu

dalam setiap benih hujan yang mekar

yang ditanaminya dengan tangannya sendiri, seperti waktu menanam ibu.

           

Aku pun merenung kembali, jika semuanya pastilah berpikir untuk keluar dari jerat kesusahan. Mungkin mereka hanya tak tahu cara terbaik meninggalkan yang sudah dikerjakan saat ini. Atau mungkin mereka hanya tak bisa meninggalkan apa yang sedang dikerjakan saat ini. Coba kita bayangkan, siapa pula yang mau bergumul dengan lumpur setiap hari. Coba pikirkan, siapa pula yang tak risih memaksa kaki masuk ke dalam comberan sepanjang matahari terlihat. Lalu, coba bayangkan, kalau semua sudah tak mau lagi berpeluh lumpur, bermandi kotoran, siapa yang akanmelakukan itu. Siapa.


Ah, pria itu masih saja dengan hati-hati menyiapkan istrinya untuk kuat. Bahwa hidup ini bukan perkara angka-angka. Ia tetap saja masih punya waktu membuatkan anak-anaknya layangan indah dengan tangannya sendiri. Sebagaimana ia hati-hati di sepuluh hari terakhir Ramadhan, mendekat pada ibunda, membawa beberapa meter kain untuk dijadikan pakaian baru di saat lebaran tiba.


Lalu, tegakah aku mengatakan pria ini tak ber…


Cerita pendek ini merupakan intrepretasi bebas saya atas puisi Hasrul Eka Putra yang berjudul “Lelaki yang Gemar Menanam Hujan” yang saya ambil dari majalah komunitas Langit Sastra katajiwa edisi 4 tahun 2012.

Untuk teman-teman yang ingin memberikan tulisan untuk dimuat di katajiwa edisi 5 tahun 2012 bisa melihat pengumumannya di  sini

*dibuat mewek malem-malem* 

Apr 3, 201225 notes
“Tuhan mendengarkan doa kita yang merasa ‘pernah disepelekan’ untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita layak untuk diberikan kesempatan.” —Tia Setiawati Priatna (via karenapuisiituindah)
Apr 2, 201241 notes
Next page →
2012 2013
  • January 2
  • February 4
  • March 12
  • April 17
  • May 4
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2011 2012 2013
  • January 29
  • February 36
  • March 9
  • April 18
  • May 9
  • June 13
  • July 17
  • August 32
  • September 17
  • October 17
  • November 1
  • December 4
2010 2011 2012
  • January 7
  • February 8
  • March 64
  • April 38
  • May 14
  • June 24
  • July 30
  • August 32
  • September 20
  • October 26
  • November 10
  • December 15
2009 2010 2011
  • January 11
  • February 5
  • March 5
  • April 7
  • May
  • June 1
  • July
  • August 3
  • September
  • October 3
  • November 51
  • December 18
2009 2010
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December 2